MANUSIA DAN CINTA KASIH

Manusia Dan Cinta Kasih

Manusia dan Cinta Kasih. Dalam kehidupan ini manusia pasti akan berinteraksi kesesama manusia, dalam berinteraksi kita harus bisa memberikan rasa Cinta Kasih kita kesesama manusia. Karena bila sesama manusia terdapat rasa Cinta Kasih terhadap sesama manusia, maka niscaya dunia ini akan terhindar dari peperangan dan perselisihan. Seperti yang terdapat dalam Kitab Shi Su pada ayat berikut ini :

Sabda Suci, IV : 4

Nabi bersabda,” Bila cipta selalu ditunjukkan kepada Cinta Kasih, tiada sarang bagi kejahatan.” (Sabda Suci, XIV : 6).

Dalam ayat tersebut dituliskan bahwa bila cipta selalu ditujukkan kepada Cinta Kasih, tiada sarang bagi kejahatan. Mengapa demikian? Karena bila semua manusia bisa saling mengasihi sesama manusia, maka nisacaya dunia ini akan tentram dan damai.

Cinta Kasih ialah rasa Cinta dan Kasih yang kita berikan kepada orang lain. Didalam ayat berbunyi :

Sabda Suci, XII : 22

Hwan-thi bertanya tentang Cinta Kasih. Nabi bersabda,” yaitu mencintai manusia.” (Bingcu, VII : 46).

Jadi kita sebagai manusia harus dapat saling mengasihi sesama manusia,terutama kedua orang tua kita yang telah melahirkan kita kedunia ini sehingga kita dapat merasakan hidup di dunia ini. Begitu pula kepada para pemimpin yang telah memimpin negara ini sehingga kita bisa hidup dengan layak.

Bingcu, IA : 1.5

“ Belum pernah ada seorang yang berperi Cinta Kasih menyia-nyiakan orang tuanya; dan belum pernah ada seorang yang menjunjung kebenaran membelakangkan rajanya.

Cinta dapat dibedakan menjadi 3 bagian bila dilihat dari tingkatan :

  1. Cinta kepada Tuhan,
  2. Cinta kepada sesama,
  3. Cinta makhluk hidup dan lingkungan.

Cinta juga terbagi dalam beberapa bentuk rasa cinta yang terjalin antara kedua manusia tersebut, berikut adalah bentuk-bentuk cinta :

1.    LIKING

Bentuk cinta dimana yang ada hanya unsur keintiman tanpa gairah dan komitmen.

2.    INFAUTED LOVE

Bentuk cinta dimana yang ada hanya unsur gairah tanpa komitmen dan keintiman.

3.    EMPETY LOVE

Bentuk cinta dimana yang ada hanya unsur komitmen tanpa gairah dan keintiman.

4.    ROMANTIC LOVE

Bentuk dimana didalamnya terdapat komponen keintiman dan gairah yang kuat tanpa adanya komitmen.

5.    COMPANINATE LOVE

Hubungan jangka panjang yang tidak melibatkan unsur gairah, hanya ada unsur keintiman dan komitmen saja.

6.    FATOU LOVE

Bentuk cinta yang didalamnya terdapat kompomen gairah dan komitmen tanpa adanya unsur keintiman.

7.    CONSUMMATE LOVE

Bentuk cinta yang didalamnya terdapat semua unsur, baik keintiman, gairah, maupun komitmen dalam proprsi yang seimbang.

Menurut Dr. Salito W. Sarwono dalam artikel yang berjudul Segitiga Cinta , bukan cinta segitiga dikatakan bahwa cinta yang ideal memiliki 3 unsur, yaitu:

  • Keterikatan, adalah perasaan untuk hanya bersama orang yang dicintai, segala prioritas hanya untuk dia.
  • Keintiman, yaitu adanya kebiasaan – kebiasaan dan tingkah laku yang menunjukkan bahwa tidak ada jarak lagi, sehingga panggilan formal diganti dengan sekedar nama panggilan.
  • Kemesraan, yaitu rasa ingin membelai atau dibelai, rasa kangen apabila jauh atau lama tak bertemu, ucapan – ucapan yang menyatakan sayang, saling menium, merangkul dan sebagainya.

Erich Fromm (1983:54) dalam bukunya Semi Mencintai mengemukakan tentang adanya macam-macam cinta, yaitu:

  1. Cinta Persaudaraan, diwujudkan manusia dalam tingkah atau perbuatannya. Cinta persaudraan tidak mengenal adanya batas – batas manusia berdasarkan SARA.
  2. Cinta Keibuan, kasih sayang yang bersumber pada cinta seorang ibu terhadap anaknya.
  3. Cinta Erotis, kasih sayang yang bersumber dai cinta erotis (birahi) merupakan sesuatu yang sifatnya khusus sehingga memperdayakan cinta yang sesunguhnya. Namun, bila orang yang melakukan hubungan erotis tanpa disadari rasa cinta, di dalamnya sama sekali tidak mungkin timbul rasa kasih sayang.
  4. Cinta Diri Sendiri, yaitu bersumber dai diri sendiri. CInta diri sendiri bernilai positif jika mengandung makna bahwa seseorang dapat mengurus dirinya dalam kebutuhan jasmani dan rohani.
  5. Cinta Terhadap Allah

Kemesraan berasal dari kata mesra yang berarti erat atau karib sehingga kemesraan berarti hal yang menggambarkan keadaan sangat erat atau karib. Kemesraan juga bersumber dari cinta kasih dan merupakan realisasi nyata. Kemesraan dapat diartikan sama dengan kekerabatan, keakraban yang dilandasi rasa cinta dan kasih.

Tingkatan kemesraan dapat dibedakan berdasarkan umur, yaitu:

  • Kemesraan dalam Tingkat Remaja, terjadi dalam masa puber atau genetal pubertas yaitu dimana masa remaja memiliki kematangan organ kelamin yang menyebabkan dorongan seksualitasnya kuat.
  • Kemesraan dalam Rumah Tangga, terjadi antara pasangan suami istri dalam perkawinan. Biasanya pada tahun tahun wal perkawinan, kemesraan masih sangat terasa, namun bisa sudah agak lama biasanya semakin berkurang.
  • Kemesraan Manusia Usia Lanjut, Kemsraan bagi manusia berbeda dengan pada usia sebelumnya. Pada masa ini diwujudkan dengan jalan – jalan dan sebagainya.

Pemujaan berasal dari kata puja yang berarti penghormatan atau tempat memuja kepada dewa – dewa atau berhala. Dalam perkembangannya kemudian pujaan ditujukan kepada orang yang dicintai, pahlawan dan Tuhan YME. Pemujaan kepada Tuhan adalah perwujudan cinta manusia kepada Tuhan, karena merupakan inti , nilai dan makna dari kehidupan yang sebenarnya.

Cara Pemujaan dalam kehidupan manusia terdapat berbagai perbedaan sesuai dengan ajaran agama, kepercayaan, kondisi dan situasi. Tempat pemujaan merupakan tempat komunikasi manusia dengan Tuhan. Berbagai seni sebagai manifestasi pemujaan merupakan suatu tambahan tersendiri dalam terciptanya kehidupan yang lebih indah.

Pengertian Belas KasihDalam surat yohanes dijelaskan ada tiga macam cinta. Cinta Agape ialah cinta manusia kepada Tuhan. Cinta Philia ialah cinta kepada ibu bapak (orang tua) dan saudara, dan ketiga cinta Amor/ Eros ialah cinta antara pria dan wanita. Beda cinta eros dan amor ini ialah cinta eros karena kodrati sebagai laki – laki dan perempuan. Sedangkan cinta amor karena unsur – unsur yang sulit dinanar, misalnya gadis normal yang cantik mencintai dan mau dinikahi seorang pemuda yang kerdil.
Disamping itu masih ada cinta lagi yaitu cinta terhadap sesama. Cinta terhadap sesama merupakan perpaduan antara cinta Agape dan Cinta Philia.
Cinta sesama ini diberikan istilah belas kasihan untuk membedakan antara cinta kepada orang tua, pria – wanita, cinta kepada tuhan.
Dalam cinta sesama ini dipergunakan istilah belas kasihan, karena cinta disini bukan karena cakapnya, kayanya, cantiknya, pandainya, melainkan karena penderitaannya. Penderitaan ini mengandung arti yang luas. Mungkin tua, sakit – sakitan, yatim, yatim – piatu, penyakit yang dideritanya, dan sebagainya.
Jadi kata kasihan atau rahmah berarti bersimpati kepada nasib atau keadaan yang diderita orang lain. Kemudian apa bedanya rahmah dengan rahman? Kalau Rahman ada unsur member. Misalnya seseorang memusuhi kita, tetapi kita tidak membalasnya, malahan kita jadikan dia sebagai teman baik. Jadi, pengertian rahmah adalah kita menaruh perhatian (simpati) terhadap penderitaan orang lain, lalu kita menunjukkan jalan keluar kepadanya. Tetapi kalau kita menaruh rasa simpati kepada orang yang tidak dalam kesulitan, sehingga menyebabkan rusak (menjerumuskan), maka hal itu disebut memanjakan.

Dalam Esai on Love ada pengertian bahwa cinta adalah rasa persatuan tanpa syarat. Itu berarti dalam rasa belas kasihan tidak terkandung unsur pamrih. Belas Kasihan yang kita tumpahkan benar – benar keluar dari lubuk hati yang ikhlas. Kalau kita memberikan uang pada pengemis agar mendapatkan pujian, itu berarti tidak ikhlas, berarti ada tujuan tertentu. Hal seperti itu banyak terjadi dalam masyarakat.
Sumber : Buku IBD, Penerbit Gunadarma.

Studi Kasus :

Dalam kehidupan dijaman yang sekarang ini kita pasti sudah dengar tentang penyiksaan dari orang tua kepada anak kandungnya sendiri. Dalam kasus ini sudah pasti ini sudah jauh dari perilaku cinta kasih. Mengapa orang tua tersebut bisa bertindak seperti itu? Dari masing-masing mereka pasti memiliki alsan masing-masing. Bisa dari segi ekonomi, kelakuan anak tersebut, pengalaman orang tua tersebut dimasa kecil, dan lain sebaginya. Dalam menyikapi hali ini, sebaiknya kita sebagai kita sebagai orang tua, seorang yang telah melahirkan seorang anak, kita seharusnya dapat mengasuh atau membesarkannya dengan benar agar dimasa yang mendatang kita bisa membanggakan anak kita karena hal-hal baik yang telah dibuat oleh anak kita. Sebagai orang tua yang dititipkan seorang anak dari Tuhan Yang Maha Esa, kita sudah sewajarnya membesarkan anak kita dengan cinta kasih, kebenaran dan kasih sayang agar anak-anak kita bisa tembuh berkembang dengan benar seperti apa yang telah dipesankan oleh Tuhan kepada kita.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s